Berbeda
dengan Dian, ketiga sahabatnya
berasal dari keluarga
sederhana, namun dengan masing-masing
karakter yang berbeda. Si Fairy yang
humoris dan sedikit romantis, Senja si cewek
narsis yang blak-blakan namun kadang terlihat sangat dewasa dan Langit si remaja pemalas dengan
sejuta mimpi namun tipikal cowok yang perhatian. Perbedaan latar
belakang keluarga dan
karakter tidak membuat
ke empat remaja ini
untuk menjadikan itu
sebagai alasan dan
perbedaan, karena bagi mereka
persahabatan itu ibarat
sebuah pelangi yang
penuh akan warna
namun tetap satu
dan tidak akan terpisahkan.
Masih
di tahun yang sama, saat
mereka telah duduk
di bangku kelas 2 SMP. Sekolah mereka kedatangan
seorang murid pindahan bernama
Erick Sabrino. Murid pindahan
ini juga ternyata
berlatar belakang keluarga
yang sama seperti
Dian, yang secara fisik juga terlihat cool, smart,
dan sedikit agak
cuek. Tipikal cowok
seperti Erick ternyata
membuat cewek-cewek disekolahnya tertarik
padanya. Bahkan dalam waktu
yang singkat Erick bisa menjadi
idola disekolah barunya.
Erick berada
satu kelas dengan
Dian, yang artinya
juga sekelas dengan
Senja, Langit dan Fairy. Hampir
sebulan berlalu Erick
telah menghabiskan waktunya sebagai murid
pindahan, dan akhirnya dia
bisa berbaur dengan
teman-teman barunya.
Suatu
hari, kelas mereka
mendapat tugas dari
guru seninya, yakni membuat satu grup
atau kelompok dance. Dian,
Langit, Fairy dan Senja
tentu berada dalam
satu kelompok yang
sama. Namun pada hari
itu, si murid baru sepertinya
tidak terlihat didalam kelas, terdengar kabar
bahwa kalau dia sedang
berada diluar kota
bersama dengan ayah
dan ibunya untuk beberapa hari.
Siang
itu, di suasana kelas saat mata pelajaran seni, sesaat setelah mereka membentuk kelompoknya masing-masing.
“anak-anak , teman kalian
yang gak sempat
masuk hari ini
ada berapa ?” Tanya ibu Laras.
“Kalo gak
salah, ada 3 bu” jawab Senja.
“siapa saja Senja?” lanjut ibu Laras,
lalu membuka absennya.
“hmm Dani, Ayu, dan satunya
lagi pacar saya
bu” kata Senja
sambil nyengir tersenyum
melihat bu Laras.
“Maksud kamu?”
(bu Laras keheranan)
“Aduh,
emang ibu belum
tw kalau Senja
udah lama jadian dengan
Erick bu, idola cewek
di sekolah” kata senja
sambil melirik teman-teman
dikelasnya.
“huuuuuuuuu” komentar
teman-teman sekelasnya,
terkecuali Dian yang
hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya
melihat teman sebangku
sekaligus sahabatnya itu
sangat narsis.
“Hmm,
Senja-senja” kata Ibu
Laras melihat kelakuan muridnya tersebut.
”Ya sudah, karena
hari ini ada
beberapa teman kalian
yang gak masuk, gimana
kalau ibu langsung
masukan mereka di kelompok kalian ?
Ibu laras kembali
bertanya.
“
Iah bu” serentak siswanya menjawab.
“Mmm,
Dani ibu
gabung dengan kelompok
satu, Ayu ibu masukan
dikelompok dua, dan yang
terakhir Erick ibu gabung di kelompok
tiga !” lanjut Ibu Laras.
“Hahh? Erick
dengan kelompok saya
bu?” kembali suara nyaring
terdengar dari sebelah
Dian.
“Iah, dia
kann pacar kamu, gimana
sihh ” jawab ibu
laras, dengan maksud sedikit
bercanda didepan murid-muridnya.
“oh ia yah, lupa
bu !” kembali Senja berkomentar
sambil nyengir dan
memukul-mukuli kepalanya.
Suasana
tawa pun akhirnya menggaduhkan
kelas pada siang
hari itu. Tak
lama kemudian, suara
bel pulang pun terdengar.
“KRING-KRING-KRING”
”Oke-oke,
anak-anak semuanya tenang !”
kata ibu Laras.
Setelah
suasana kelas kembali
tenang , Ibu laras pun
melanjutkan pembicaraannya.
“
Oke, bel pulang sudah bunyi, pertemuan kita cukup
sampai disini dulu, dan
ibu harapkan
agar latihan untuk
tugas prakteknya dari
sekarang !”
“iah bu” serentak siswanya menjawab.
Siang
itu nampaknya Langit
pulang bersama dengan Fairy. Biasanya, pergi dan
pulang sekolahnya Langit selalu dengan Senja, karena rumah
yang sangat berdekatan,
dan juga Langit
belum bisa mengendarai
motor, sementara hari itu Senja dijemput oleh
pamannya.
“Ngit, lu pulang bareng sapa?” tanya
Fairy.
“mw sama
siapa lagi Ry,
hari ini kan gak bareng
Senja” jawab Langit.
“Tapi lu
yang boncengin yahh?” lanjut
Fairy, sambil
nyengir-nyengir kearah Langit.
“Hmm,
ngina mas bro” tukas Langit.
“haha,
becanda kok ” kembali Fairy
menyambung pembicaraan.
Sembari
mereka berjalan menuju
ke parkiran, tiba-tiba dari
kejauhan Langit melihat
Dian yang sedang
duduk sendiri di parkiran
sambil memegang perutnya.
continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar